Pages

About

Selasa, 20 Oktober 2015

Unforgettable Moment in Kukup Beach (Part 1)

Episode satu

Pernah dengar Pantai Kukup? Yup, itu salah satu pantai di Jogja. Pasirnya bagus menurut saya, karena tidak menempel terlalu lama di baju. Tampilannya seperti tepung panir. ^^. Air lautnya, hmm.. biru. Pantainya bersih. Benar benar bagus buat honeymoon. Halah ^^.

Oke, saya akan berbagi pengalaman yang tak terlupa (insyaAllah). Kemarin kami ada acara rihlah untuk mengisi kegiatan selepas UTS. Pantai kukup menjadi incaran kami. Dari awal, saya sudah berniat tidak basah-basahan. Mungkin saya akan di-cap “nggak asyik” oleh banyak orang karena tidak mau bermain air di pantai. Sebenarnya dulu sewaktu saya masih belia (hha, skrng sudah kepala dua), saya masih mau nyebur walau hanya di pinggiran. Saya tidak pandai berenang dan sangat takut ombak. Tapi semenjak kuliah (?) saya jadi malas main air di pantai. Malas bawa baju kotornya saat pulang. He.
  
Selama disana, saya sama sekali tidak nyebur. Hanya di awal saya sempat mencelupkan tangan. Beberapa acara sudah usai. Saat teman-teman bermain air, saya gunakan untuk jalan-jalan. Setelah saya rasa kami akan pulang, saya menghampiri teman-teman. Sepertinya mereka akan foto satu angkatan.

“Beb.. sini.. foto seangkatan!,” salah satu teman saya berteriak.

Saya hanya mengangguk dan berlari kecil, takut mereka menunggu terlalu lama. Sebelum sampai di tempat, saya mengambil aqua gelas yang mungkin tertinggal oleh teman saya (saat itu kami kehausan dan persediaan air mineral sudah menipis).

“Tapi jangan nempel lho ya!” saya memberi ultimatum karena sebagian besar mereka sudah basah.

Saya mengambil posisi di pinggir. Lalu teman yang tadi memanggil saya beb (sebut saja ZuNa) meminta saya untuk pindah. “Kalo nggak mau basah kesini lah, di depan,” katanya mengintruksi. Saya segera pindah di depannya. “Bawa ganti kan?” tanyanya. Saya mengangguk. Seperti mendapat firasat buruk, saya menoleh ke atas. Saya melihat matanya mengisyaratkan sesuatu. Benar saja, ketika ancang-ancang kabur, saya dipeluk oleh dia. Oke, bukan hanya dia, tapi teman teman saya yang lain juga turun tangan. Saya dipeluk erat dan hanya bisa pasrah. Hh, mereka benar bernar telah sekongkol. Saya seratus persen dijebak.


Saya masih berteriak, merengek, dan berontak sampai saya merasa bagian bawah sudah basah. “Tuh kan basah..” keluh saya. “Ada mp3 nih di saku, nanti rusak,” ucapku lagi. “Sini, aku simpen ya,” seorang teman yang lain mengambilnya dari saku saya. Then, mereka tertawa bangga dan saya langsung nyemplung dalam waktu yang singkat (setelah itu masih ada acara). Sudah basah, nyebur sekalian.


Jika diteliti lagi, ternyata saya memang salah sampai bisa masuk perangkap mereka. Pertama, strategi foto bareng memang cocok untuk memancing saya karena mereka tahu saya cukup bersahabat dengan kamera (haha). Kedua, saya disuruh pindah posisi agar mereka lebih leluasa menangkap saya dan saya turuti. Ketiga, saat teman saya bertanya baju ganti, itu untuk memastikan saya cocok diceburkan atau tidak. Oh!!! Saya masih saja protes, kenapa hanya saya yang dianiaya, tapi ternyata sebelum saya sudah ada tiga korban dengan jebakan berbeda. Masih mau baca? ^^ tunggu episode selanjutnya yah, saya mau tidur dulu, hhe J

Jumat, 09 Oktober 2015

Ummu Darda’ Meminang Suaminya



Ummu Darda’ adalah shahabiyah yang memiliki keindahan budi, kebagusan agama, dan kejelitaan rupa, sehingga sepeninggal Abu Darda’, Mu’awiyah dating untuk meminangnya, namun Ummu Darda’ menolak. Kisah unik ini diabadikan oleh Ibnul Jauzi dalam Shifah ash-Shafwah (1/641).

Dari Luqman bin Amir, dari Ummu Darda’ bahwa ia pernah berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Abu Darda’ meminangku, lalu Engkau menikahkan aku dengannya di dunia, ya Allah, maka aku meminangnya kepada-Mu, dan meminta-Mu agar Engkau berkenan menikahkan aku dengannya di akhirat.

Abu Darda’ kemudian menanggapi, “Jika kamu memang benar ingin seperti itu, padahal aku adalah suami pertamamu, maka janganlah kamu menikah lagi sepeninggalku nanti.”

Luqman bin Amir melanjutkan, “Ummu Darda memiliki kecantikan. Maka sepeninggal Abu Darda’, Muawiyah datang ingin melamarnya. Lalu Ummu Darda menjawab, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan menikah lagi di dunia, hingga aku menikah dengan Abu Darda di surga, insyaAllah.

(Cuplikan rubrik Muasyarah pada majalah HUJJAH edisi Oktober 2015, hlm. 58)