Pages

About

Rabu, 04 November 2015

Begal di Tengah Kampung



Ini merupakan perjalanan saya dari pantai kukup. Menjadi moment tak terlupakan? Sepertinya iya. Well, kami start pulang dari kukup sekitar jam lima sore. Saat maghrib, kami berhenti di salah satu pusat oleh oleh yang masih berada di Gunung Kidul untuk shalat dan juga berburu buah tangan tentunya. Selesai urusan kami disitu, berarti kami harus segera pulang. Sebelum naik bis, salah seorang dosen bilang “nanti ini ya, ke Malioboro?” saya hanya ber-O. setahu saya dan teman teman, kami tidak jadi ke Malioboro walau rencana awal memang mau kesitu.

“Kata Bu Fat nanti kita ke Malioboro lho, kemungkinan, “ucapku saat masuk ke bis.

“Ah, masa?? Kata Pak Dosen ga jadi kok,” teman temanku menjawab kompak.

Iya sih.. saya sendiri juga tahu kalau tadi dosen bilang kalau kami nggak jadi ke Malioboro. Tapi dalam hati saya masih berharap karena mendengar perkataan Bu Fat tadi. Tiga puluh persen lah kira kira. ^^. Saya masih terjaga saat sebagian besar teman saya sudah tepar. Saya masih berharap kami mampir ke Malioboro. Tapi ketika mata saya menangkap tulisan “Sukoharjo” maka pupuslah harapan itu. Saya keluarkan mp3 dari saku. Pasang headset, bersiap untuk menyusul teman teman k ealam mimpi. Belum sempat saya terlelap, tiba tiba bis kami ngerem mendadak. Saya yang masih tidur ayam langsung melek. Ada apa?

“Ih, ada begal!” seru teman saya. Saya yang duduk di baris kedua dari belakang plus dekat pintu langsung deg-degan. Jantung saya berdebar hebat. Saya spontan mematikan mp3, mencabut headset dari telinga saya dan menarik korden dengan kuat. Oh, saya paling nggak bisa lihat hal begituan. Tapi saat saya menarik korden, teman yang duduk di belakang saya (bangku paling belakang) juga menariknya lebih keras lagi. Akhirnya saya menoleh ke dia “ya udah, barengan,” ucap saya dengan suara agak tegas. Itu efek ketakutan dan kami sama sama takut. (Haha, kalau ingat itu saya merasa geli sendiri. Karena pada dasarnya korden itu muat dan disetting untuk menutupi jendela kami, tapi kenapa harus pake acara rebutan? ^^)

Dalam pikiran saya cuma satu, apakah nyawa saya akan melayang malam itu? Bahkan saya sudah membayangkan betapa ngerinya kalau leher saya sampai putus. Saya membayangkan itu sambil mengusap leher. Ya Rabb.. saya perbanyak istighfar. “tenang.. ayo pada doa,” teman saya mengintruksi. Kami diam, suasana hening, tapi tiba tiba teman saya yang duduk di tengah nyeletuk, “begal kok di kampung?!” serunya lantang. “Sssssttttt!!!! Tenang dong, jangan berisik” teman saya yang di belakang kembali menenangkan. Sebagian teman saya berdiri, mencari tahu. Saya hanya melirik ke jendela kiri yang kordennya tidak ditutup. (Bahkan korden bangku depan saya juga terbuka lebar) Saya melihat ada semacam terpal yang biasa dipakai di truk. Waktu itu saya hanya membatin, mungkin saja bis kami dibegal oleh komplotan begal yang naik truk. Apalagi saya sering mendapat cerita dari teman teman saya tentang begal di daerah mereka. (Luar Jawa)

Saat saya melihat jendela sisi kanan yang tepat berada di depan bangku saya, saya langsung membetulkan perkataan teman saya tadi, masa ada begal di tengah kampung? Saya lihat dengan jelas, banyak motor dan mobil yang berlalu lalang tapi kenapa mereka tidak dibegal juga? Kenapa kami? Akhirnya kami membuat asumsi baru, oh, mungkin bis kami nyerempet orang. “Tapi kalo nyerempet, kok kita nggak ngrasa ya? Teman saya mempertanyakan lagi. Yup, saya juga tidak merasa.

Finally, setelah berlalu beberapa saat, setelah ada percakapan antar sopir bis kami dan rombongan orang bersenjata tadi (mereka membawa balok, linggis, bahkan ada yang hamper melempar batu besar ke kaca bis) kami tahu, bahwa penyebab mereka menghadang kami karena bis kami tanpa sengaja menginjak cor-coran jalan yang masih basah. Sedikit memang. Tapi kami maklum saja, mereka dalam kondisi capek (bahkan sepanjang jalan itu ternyata masih banyak yang bekerja) dan mengira kami tidak bertanggungjawab, padahal kami tak merasa sama sekali.
        
       Setelah bayar ganti rugi, akhirnya bis kami bisa meneruskan perjalanan. Alhamdulillah.. saya sangat bersyukur karna yang mencegat kami bukan begal sungguhan ^^. Meskipun sebagian besar awak bis kami merasakan ketegangan tadi, tapi see… anak-anak di bis belakang sama sekali tidak yahu menahu. Mayoritas mereka sudah terlelap. Jadilah mereka hanya bertanya Tanya, “kenapa sih? Katanya tadi ada begal?” ^^ dan kami yang menjadi pelaku sejarah pun bersedia menceritakan.
         
         Ok, I think my story of this moment is enough… thanks for reading.. ^^

4 komentar: